Ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve dipandang mampu menekan nilai dolar AS. Kondisi ini berpotensi membuat harga logam yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Secara prospektif, tren logam industri masih menunjukkan arah positif. Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, outlook untuk tembaga, aluminium, dan timah tetap kuat. Ia memperkirakan harga tembaga akan berada di kisaran US$ 12.500–13.000 per ton pada awal tahun depan. Aluminium diproyeksikan bergerak di level US$ 3.100–3.200 per ton, sementara timah diperkirakan mencapai US$ 45.000–46.000 per ton.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menambahkan bahwa hingga awal 2026 harga logam dasar masih berpotensi naik. Ia memprediksi tembaga akan bergerak di rentang US$ 12.000–13.500 per ton, aluminium di kisaran US$ 2.850–3.300 per ton, dan timah antara US$ 40.000–48.000 per ton. Menurutnya, peran tembaga dalam elektrifikasi, aluminium dalam proses dekarbonisasi transportasi, serta timah dalam industri elektronik akan menjaga permintaan tetap tinggi.
Meski tren terlihat bullish, Lukman mengingatkan agar investor tetap disiplin mengikuti arah pasar. Ia menyarankan strategi akumulasi dan buy on correction, karena prospek jangka menengah masih mendukung kenaikan harga.
Sutopo menekankan pentingnya mencermati pergerakan dolar AS dan data inventori di London Metal Exchange (LME) sebagai indikator utama perubahan tren. Strategi akumulasi saat terjadi koreksi teknis dinilai bisa menjadi langkah tepat untuk memanfaatkan momentum pasar.




